Ulang Tahun Pasoejak
tanggal 13-14 Juni 2009 Biaya 100.000
pedaftaran tour kepuncak + pembayaran DP 50%, pendaftaran paling lambat 20 mei pelunasan tanggal 31 mei. sekaligus pertemuan berikutnya di tempat mas danang.
for info hub arista 0898-9948-876
=======================================
untuk pemesanan Tiket Manchester United Hubungi Ibu Ais ( Organizing Committee MU Tour Asia 2009 Indonesia)
Tel: 021 95204721
08567996764
tanggal 13-14 Juni 2009 Biaya 100.000
pedaftaran tour kepuncak + pembayaran DP 50%, pendaftaran paling lambat 20 mei pelunasan tanggal 31 mei. sekaligus pertemuan berikutnya di tempat mas danang.
for info hub arista 0898-9948-876
=======================================
untuk pemesanan Tiket Manchester United Hubungi Ibu Ais ( Organizing Committee MU Tour Asia 2009 Indonesia)
Tel: 021 95204721
08567996764
delapan besar Divisi Utama
Monday, May 25, 2009
Setelah memastikan lolos ke semifinal setelah pertandingan terakhir persebaya berhasil menahan imbang tanpa gol 0-0 dengan tuan rumah persisam samarinda, dan menduduki peringkat kedua group K , dikarenakan persebaya unggul dalam selisih Gol dengan saingan mereka yakni Mitra Kukar yang dipertandingan terakhir mampu ditahan imbang oleh persigo Gorontalo yang sejatinya sudah tidak memiliki peluang tampil di semifinal.
Di semifinal nanti yang kemungkinan dijadwalkan pada tanggal 26 Mei 2009 persebaya kembali akan berjumpa dengan persema malang, bukan kali pertama persebaya bertemu dengan tim asal kota malang tersebut karena persebaya satu wilayah dengan persebaya berada di wilayah timur group divisi utama tahun ini. rekor ketemu kedua tim cukup berimbang yakni satu kalah satu kali menang, ketika persebaya di putaran pertama lalu bisa unggul 6-1 sedangkan di putaran kedua persebaya harus takluk 1-0 di malang.
Persebaya akan di jadwalkan bermain di semifinal di samarinda melawan persema malang, sedangkan tim semifinalis lainnya akan mempertemukan PSPS pekan baru menghadapi Persisam Samarinda. hal yang sama persisam maupun PSPS merupakan satu tim dari group wilayah barat, sungguh partai dimana kedua kesebelasan sama sama mengerti karakter permainan dan kelemahan satu sama lain.
Hal yang mungkin sedikit menguntungkan kubu Green Force Persebaya yakni akan ditunjuknya kembali samarinda menjadi host babak semifinal nanti. dimana persebaya sudah banyak beradaptasi dengan lapangan samarinda atau atmosfir sepakbola di samarinda, sedangkan lawan tandingnya di semifinal nanti yakni persema malang sama sekali belum pernah menginjakkan kaki nya di samarinda selama putaran pertama maupun putaran kedua divisi utama kali ini karena beda group.
Apalagi diperkirakan pertandingan semifinal divisi utama kali ini akan lebih menarik dari sebelumnya bagaimana kedua partai ini dalam keempat tim sudah pernah bertemu dan satu group di wilayahnya masing masing. jadi paling tidak mengerti kelemahan dan karakteristis permainan tim tersebut. bagaimana dijadwalkan semifinal akan berlangsung pada tanggal 26 mei nanti yakni mempertemukan Persisam vs PSPS dan Persebaya vs Persema Malang.
Di semifinal nanti yang kemungkinan dijadwalkan pada tanggal 26 Mei 2009 persebaya kembali akan berjumpa dengan persema malang, bukan kali pertama persebaya bertemu dengan tim asal kota malang tersebut karena persebaya satu wilayah dengan persebaya berada di wilayah timur group divisi utama tahun ini. rekor ketemu kedua tim cukup berimbang yakni satu kalah satu kali menang, ketika persebaya di putaran pertama lalu bisa unggul 6-1 sedangkan di putaran kedua persebaya harus takluk 1-0 di malang.
Persebaya akan di jadwalkan bermain di semifinal di samarinda melawan persema malang, sedangkan tim semifinalis lainnya akan mempertemukan PSPS pekan baru menghadapi Persisam Samarinda. hal yang sama persisam maupun PSPS merupakan satu tim dari group wilayah barat, sungguh partai dimana kedua kesebelasan sama sama mengerti karakter permainan dan kelemahan satu sama lain.
Hal yang mungkin sedikit menguntungkan kubu Green Force Persebaya yakni akan ditunjuknya kembali samarinda menjadi host babak semifinal nanti. dimana persebaya sudah banyak beradaptasi dengan lapangan samarinda atau atmosfir sepakbola di samarinda, sedangkan lawan tandingnya di semifinal nanti yakni persema malang sama sekali belum pernah menginjakkan kaki nya di samarinda selama putaran pertama maupun putaran kedua divisi utama kali ini karena beda group.
Apalagi diperkirakan pertandingan semifinal divisi utama kali ini akan lebih menarik dari sebelumnya bagaimana kedua partai ini dalam keempat tim sudah pernah bertemu dan satu group di wilayahnya masing masing. jadi paling tidak mengerti kelemahan dan karakteristis permainan tim tersebut. bagaimana dijadwalkan semifinal akan berlangsung pada tanggal 26 mei nanti yakni mempertemukan Persisam vs PSPS dan Persebaya vs Persema Malang.
Gawat! PSSI Naikkan Harga Tiket Laga Ujicoba MU
Wednesday, May 20, 2009
Oleh Yuslan Kisra
Upaya PSSI selaku panitia lokal kedatangan MU ke tanah air dalam meraup keuntungan terus berlanjut. Bagaimana tidak, setelah sebelumnya meluncurkan tiket edisi khusus seharga Rp40 juta, otoritas sepakbola nasional ini menaikkan harga tiket tanda masuk laga ujicoba tim elit asal Inggris tersebut kontra Indonesia All-Stars.
Di mana sesuai rencana, skuad besutan pelatih Sir Alex Ferguson akan menghadapi para pemain sepakbola nasional yang dipilih melalui polling pesan singkat (SMS), di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 20 Juli mendatang.
Meski belum secara resmi melansir kenaikan tiket tersebut, tapi dari informasi yang berhasil dihimpun GOAL.com dari kalangan panitia lokal menyebutkan, kenaikan harga tiket akan diberlakukan sebesar Rp250 ribu untuk VIP Barat dan Timur, serta kategori I.
Seperti diketahui, tiket VIP Barat yang tadinya dijual Rp1,5 juta naik menjadi Rp1,750 juta per lembar. Demikian juga dengan tiket VIP Timur dari harga Rp 1 juta menjadi Rp 1,250 juta, serta tiket kategori I menjadi Rp650 ribu yang semula hanya Rp400 ribu.
Konon, kenaikan tiket itu dibarengi dengan cenderamata yang akan diberikan kepada pemegang tiket dari tiga kategori tersebut, yakni berupa t-shirt. Karena itu, hal ini tetap tidak diakui oleh panitia lokal jika telah terjadi kenaikan harga tiket.
Upaya PSSI selaku panitia lokal kedatangan MU ke tanah air dalam meraup keuntungan terus berlanjut. Bagaimana tidak, setelah sebelumnya meluncurkan tiket edisi khusus seharga Rp40 juta, otoritas sepakbola nasional ini menaikkan harga tiket tanda masuk laga ujicoba tim elit asal Inggris tersebut kontra Indonesia All-Stars.Di mana sesuai rencana, skuad besutan pelatih Sir Alex Ferguson akan menghadapi para pemain sepakbola nasional yang dipilih melalui polling pesan singkat (SMS), di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 20 Juli mendatang.
Meski belum secara resmi melansir kenaikan tiket tersebut, tapi dari informasi yang berhasil dihimpun GOAL.com dari kalangan panitia lokal menyebutkan, kenaikan harga tiket akan diberlakukan sebesar Rp250 ribu untuk VIP Barat dan Timur, serta kategori I.
Seperti diketahui, tiket VIP Barat yang tadinya dijual Rp1,5 juta naik menjadi Rp1,750 juta per lembar. Demikian juga dengan tiket VIP Timur dari harga Rp 1 juta menjadi Rp 1,250 juta, serta tiket kategori I menjadi Rp650 ribu yang semula hanya Rp400 ribu.
Konon, kenaikan tiket itu dibarengi dengan cenderamata yang akan diberikan kepada pemegang tiket dari tiga kategori tersebut, yakni berupa t-shirt. Karena itu, hal ini tetap tidak diakui oleh panitia lokal jika telah terjadi kenaikan harga tiket.
Wasit Asing Pimpin MU vs Indonesia All Star
Wednesday, May 20, 2009
Wasit yang akan memimpin pertarungan Manchester United vs Indonesia All Star, 20 Juli 2009, dipastikan bukan dari Indonesia. Pasalnya, penunjukan pengadil lapangan itu ditetapkan langsung oleh Konfederasi Sepakbola Asia (AFC).Demikian disampaikan oleh Ketua Badan Perwasitan Sepakbola Indonesia (BWSI), Bernhard Limbong kepada Artha Tidar, wartawan GOSport, Minggu, 17 April 2009. Menurutnya, beberapa wasit Indonesia yang akan mereka rekomendasikan hanya bertugas sebagai asisten wasit dan wasit cadangan.
“Kemungkinan wasitnya berasal dari luar negri, sedangkan wasit Indonesia hanya perangkat pertandingan lain seperti asisten wasit atau wasit cadangan,” bilang Bambang.
Menurut Limbong, BWSI akan menyetorkan beberapa nama kepada AFC. Nama-nama ini akan dikirim melalui komite hubungan luar negeri PSSI yang diketuai oleh Dali Taher.
Terpisah, Direktur Penugasan Wasit Bambang Irianto menyebut saat ini Indonesia baru memiliki 5 wasit plus 7 hakim garis berlisensi FIFA. Sedangkan 43 wasit dan 50 hakim garis yang berlaga di pentas LSI 2008/2009 masih berlinsi nasinal.
Dari lima wasit yang sudah mengantongi lisensi A, hanya empat yang berpeluang untuk direkomendasian ke AFC terkait duel Indonesia All Star vs MU nanti. Mereka adalah Jimmy Napitupulu,Olehadi MH, Jimmy Napitupulu, Jajat Sudrajat dan Purwanto.
“Tur MU ke Asia itu tercatat oleh AFC sebagai agenda kegiatan internasional. Sehingga AFC juga bertugas melakukan supervisi teknis soal hal itu. Termasuk status soal kandidat wasit yang memimpin pertandingan itu,” papar Limbong. [marco tampubolon/vivanews]
Lirik: Garuda di Dadaku By Netral
Tuesday, May 19, 2009
Ayo putra bangsa
Haruskah negeri ini
Ketika kita bangga,
Indonesia
Jayalah negaraku
Tanah air tercinta, Indonesia raya
Jayalah negaraku
Tanah air tercinta, Indonesia raya
Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang..
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang..
Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang..
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang.
DOWNLOAD LAGUNYA DISINI klik disini
Haruskah negeri ini
Ketika kita bangga,
Indonesia
Jayalah negaraku
Tanah air tercinta, Indonesia raya
Jayalah negaraku
Tanah air tercinta, Indonesia raya
Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang..
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang..
Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang..
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang.
DOWNLOAD LAGUNYA DISINI klik disini
Trailer garuda di dadaku the movie
Tuesday, May 19, 2009Bayu, yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, memiliki satu mimpi dalam hidupnya: menjadi pemain sepak bola hebat. Setiap hari dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil mendribble bola untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana. Heri, sahabat Bayu penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan pelatih cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Namun Pak Usman, kakek Bayu, sangat menentang impian Bayu karena baginya menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan.
Dibantu teman baru bernama Zahra yang misterius, Bayu dan Heri harus mencari-cari berbagai alasan agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Tetapi hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu, dan bahkan persahabatan tiga anak itu terancam putus. Terlalu mulukkah impian Bayu untuk menjadi pemain sepak bola yang hebat?
jangan lupa 18 Juni 2008
Tiket Gratis Nonton manchester
Friday, May 15, 2009
Menangi Tiket Gratis Nonton Pertandingan
Manchester United vs Indonesian All Stars!
Gelora Bung Karno Stadium, Jakarta - 20 Juli 2009!
3 Tiket Category 1 untuk 3 member dengan o-Point terbanyak urutan 1 s/d 3
8 Tiket Category 2 untuk 8 member dengan o-Point terbanyak urutan 4 s/d 11
30 Hadiah Hiburan Kaos Keren Obrolin.com
Segera daftar sebagai member Obrolin.com
dan kumpulkan o-Point sebanyak-banyaknya sebelum 11 Juli 2009!
Baca syarat dan ketentuan di sini
Manchester United vs Indonesian All Stars!
Gelora Bung Karno Stadium, Jakarta - 20 Juli 2009!
3 Tiket Category 1 untuk 3 member dengan o-Point terbanyak urutan 1 s/d 3
8 Tiket Category 2 untuk 8 member dengan o-Point terbanyak urutan 4 s/d 11
30 Hadiah Hiburan Kaos Keren Obrolin.com
Segera daftar sebagai member Obrolin.com
dan kumpulkan o-Point sebanyak-banyaknya sebelum 11 Juli 2009!
Baca syarat dan ketentuan di sini
Budaya Kitakah Sepakbola?
Thursday, May 14, 2009
Penghujung bulan April 2004 lalu, lagi-lagi Indonesia diberi kado akhir bulan yang cukup menarik. Rangkaian bentrokan dengan skala variatif yang terjadi di tiga propinsi yang terjadi hanya dalam kurun waktu satu minggu. Yang pertama tentu saja pertikaian Ambon yang sekali lagi mengundang korban jiwa dari kedua belah pihak yang bertikai. Yang kedua bentrokan antara aparat melawan simpatisan Kyai Abu Bakar Ba’asyir di Jakarta. Memang tak ada korban jiwa dari bentrokan ini, tapi bekas kerusakan tentu saja sangat membekas di sekitar Rumah Tahanan Salemba.Yang terakhir tentu saja bentrokan antara demonstran mahasiswa dengan aparat kepolisian di Makasar. Sekurangnya 61 orang terluka dalam bentrokan yang sama sekali tidak seimbang ini. Tak usah heran jika semua korban datang dari pihak mahasiswa, jangan juga heran jika ada diantara korban yang mengalami luka tertembak. Tayangan sebuah televisi swasta yang saya lihat, menunjukkan tembakan memang dilepaskan langsung ke sasaran.
Bukan cuma dilakukan oleh mereka yang berseragam, tapi juga oleh mereka yang berseragam dan berambut gondrong, yang biasanya hanya bisa kita temui di acara-acara berita kriminal di televisi. Jangan juga heran jika para mahasiswa hanya bisa berlarian untuk kemudian terpojok ke kelas-kelas mereka. Anak-anak muda yang katanya penerus bangsa ini sama sekali tidak bersenjata. Batu hanyalah senjata tercanggih yang mereka punya.
Mungkin Anda menganggap tidak ada kesamaan yang signifikan antara ketiga peristiwa diatas. Tapi pastinya ada kesamaan tegas antara peristiwa kedua dan ketiga. Dalam kedua peristiwa tersebut pihak kepolisian secara terang-terangan melakukan serangan balasan—baik dengan batu maupun senjata api—ke arah massa yang di atas kertas bisa ditaklukkan hanya dengan pentungan, water canon dan tameng keamanan.
Di banyak negara setiap aksi massa tak selalu dilawan dengan kekerasan. Setidaknya di ruang-ruang publik, setiap aksi massa selalu dihalau, bukan ditimpali dengan serangan kekerasan tandingan. Lihat bentrok di Paris, Seattle, Genoa, Seoul, Milan, Brussels dll. Jika pun kemudian terjadi kekerasan, tak pernah dilakukan secara membabi buta dan sporadis.
Di arena sepakbola Belanda-Belgia 2000 adalah salah satu bukti. Dunia sepakbola mengenang tewasnya seorang petugas kepolisian akibat menghalau aksi pendukung tim Jerman. Aksi kekerasan selalu dibalas dengan reaksi dan bukan aksi kekerasan lainnya, itulah yang dilakukan oleh petugas kepolisian Belanda-Belgia. Tak satupun tindak kekerasan yang sifatnya melukai mereka lakukan. Paling banter, mereka hanya menghalau sampai radius sejauh mungkin gerak maju hooligan asal Jerman, Inggris, Turki atau pendukung tim manapun yang memang doyan mengamuk.
Bangsa Eropa dengan segala kekurangannya adalah bangsa termaju di belahan bumi ini. Mereka nyaris selalu memiliki system untuk memecahkan sebuah masalah. Budaya mereka yang relatif cukup tua dibandingkan dengan budaya bangsa-bangsa lain—bahkan Amerika sekalipun—membuat mereka menjadi matang pada hal-hal yang sifatnya preventif.
Lalu, mengapa kita tidak coba mencontoh mekanisme maupun sistem yang diterapkan oleh bangsa Eropa terhadap sepakbola? Bisa jadi karena kita sudah terlalu besar kepala pada apa yang selalu kita agung-agungkan sebagai “budaya bangsa”. Akar budaya yang katanya “menancap tajam di sanubari setiap anak bangsa”
Padahal kalau mau dipikir-pikir, budaya bangsa yang mana? Kekerasan ternyata adalah menu utama yang telah kita akrabi. Rasa aman yang sempat kita rasakan ternyata semu. Imbasnya kekerasan adalah bagian dari hidup kita. Parahnya, kekerasan kini telah merasuk dengan kuat ke arena sepakbola.
Tawuran antar pendukung memang sering terjadi di Eropa, bentrokan di dalam lapangan pun tak jarang terjadi. Anda tentu masih ingat bagaimana Eric Cantona melepaskan tendangan kungfunya, tendangan Maradona yang melayang ke perut Julio Batista, Frank Rijkaard meludahi wajah Rudi Voeller, Johan Cruijjf yang merebut kartu kuning untuknya dan kemudian membantingnya serta peristiwa-peristiwa berkonotasi kekerasan lainnya.
Seperti telah menjadi konvensi, bahwa apa yang terjadi di lapangan akan diselesaikan di lapangan, demikian pula yang terjadi di luar lapangan. Pihak keamanan memberi rasa aman yang maksimal. Di lain pihak, penonton—apalagi official tim—tidak akan ikut campur pada bentrok-bentrok yang terjadi di dalam lapangan. Lihat partai penting antara AC Milan melawan AS Roma. Ketika hadiah penalti yang sebenarnya adalah hak Francesco Totti dan kawan-kawan dirampas begitu saja oleh wasit Alessandro Messina, tak ada reaksi berlebihan dari Fabio Cappello atau siapapun yang duduk bersamanya di bangku cadangan.
Tak ada aksi intimidasi ataupun pemukulan yang dilakukan oleh pendukung maupun official tim asal ibukota Italia itu. Sementara di Indonesia, seorang wasit harus rela ketakutan pada ancaman yang bisa saja dialami ketika ia hanya bermaksud untuk berbuat tegas. Seorang wasit bisa melepaskan tugasnya di babak kedua hanya “karena” aksi intimidasi dari tim tuan rumah. Lebih dari itu, seorang wasit bisa pulang dengan kepala benjol dan luka di pelipis akibat pukulan seseorang tanpa identitas jelas yang seenak udelnya bisa masuk ke dalam lapangan. Lebih lucu lagi, tak seorangpun pihak keamanan yang mengambil langkah tegas atas aksi-aksi barbar macam itu.
Pernahkah Anda menemukan keajaiban macam itu di sepakbola Eropa yang katanya menjadi kiblat kita di kala siaran langsungnya masuk ke TV-TV swasta nasional?
Ah…temukan saja hal tersebut di sepakbola Indonesia. Mungkin juga karena kekerasanlah budaya kita, bukan sepakbola.
Eks pemain tagih kekurangan gaji
Thursday, May 14, 2009
Solo (Espos) Setidaknya dua mantan pemain Persis Solo, masing-masing Nurkholis dan Ghofur yang sempat membela Laskar Sambernyawa kembali ke Solo. Kedatangan mereka di mes Persis untuk meminta kekurangan gaji yang belum mereka terima.”Dulu mereka kan masih ada kekurangan gaji yang belum diterimakan. Karena itu ketika ada kabar manajemen akan melunasi kekurangan, Nurkholis dan Ghofur datang ke Solo,” ujar Pelatih Persis, Eduard ”Edu” Tjong di Solo, Selasa (12/5).
Seperti diwartakan dalam harian ini seusai pertandingan lalu Sekretaris Manajer Persis, Abraham ”Bram” EWT berjanji tetap akan melunasi hak-hak para pemain. Mejawab pertanyaan pers, seputar waktu penyerahan ke pemain, Bram memberi ancar-ancar waktu tiga sampai empat hari (SOLOPOS, 11/5).
Terkait dengan hal tersebut Edu mengimbau para pemainnya bersabar. Karena dia percaya pengurus tetap akan mengusahakan uang tersebut.
Menurut dia, para pemain yang kini berada di mes masih menunggu hak-hak yang belum mereka terima. Namun hingga kemarin Edu mengaku belum mendapat kepastian kapan pemberian hak-hak itu diberikan. Meski demikian, katering untuk pemain yang selama ini dikirim ke mes, masih jalan terus. Dengan demikian pemain masih bisa menikmati makan tanpa mengeluarkan uang.
Edu menambahkan hingga kemarin status para pemain yang membela skuat asal Kota Bengawan ini masih terikat kontrak dengan Persis. Karena itu pihaknya juga masih menyediakan katering untuk para pemain. - Oleh : ian
Tim Persis Segera dibubarkan
Tuesday, May 12, 2009
Tim Persis Solo yang baru saja mengakhiri kompetisi Liga Indonesia Divisi Utama segera dibubarkan. Namun para punggawa Laskar Sambernyawa, julukan Persis, saat ini masih menunggu hak-hak yang belum mereka terima.Oleh sebab itu, meski tim asuhan pelatih Eduard ”Edu” Tjong ini sudah tidak berlatih lagi, para pemain masih bertahan di mes. ”Pihak manajemen memang menyuruh para pemain tidak meninggalkan mes dulu. Karena seperti diucapkan Bram (Sekretaris Manajer Persis, Abraham ”Bram” EWT-red) dalam waktu tiga empat hari ini menajemen kan akan memenuhi kewajibannya,” ujar Edu di Solo, Senin (11/5).
Seperti diwartakan dalam harian ini Bram mengatakan dengan selesainya kompetisi Divisi Utama, tim Persis segera dibubarkan. ”Dalam waktu dekat ini tim akan segera dibubarkan. Karena itu kami berterima kasih kepada seluruh pihak di antaranya pemain, Panpel, suporter, aparat keamanan dan sebagainya yang telah ikut membantu kami,” katanya.
Ditanya soal kewajiban manajemen terhadap pemain di antaranya soal gaji, bonus dan sebagainya, Bram menyatakan tetap akan mengusahakan. ”Dalam waktu dekat ini kami akan memenuhi kewajiban itu,” janjinya menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers seusai laga pamungkas Persis versus PSIR Rembang (SOLOPOS, 11/5).
Lebih lanjut Edu pernah menjadi gelandang Arseto Solo itu mengaku lega karena Persis terhindar dari degradasi. Menurutnya, perjuangan Persis menghindarkan diri dari jurang degradasi cukup melelahkan. ”Saya sekarang sudah bisa tidur sore hari,” ujar dia sambil tersenyum.
Ditanya kesediaannya jika ditawari menangani Persis pada kompetisi mendatang, Edu mengaku hal itu belum terpikirkan. Saat ini dia masih menikmati keberhasilan Laskar Sambernyawa tetap bertahan di Divisi Utama.
Secara terpisah, Sekretaris Pengcab PSSI Persis Solo, Ruhban Ruzziyatno menilai kiprah Persis di kompetisi Divisi Utama musim ini cukup berhasil. ”Menurut saya ini cukup berhasil karena Persis tidak didukung dana APBD dan masih bisa eksis dan bertahan di Divisi Utama,” papar dia. - Oleh : ian


